Jumat, 21 Maret 2014

Iming-Iming Tak Jelas

           Ini bermula dari pendaftaran SNMPTNku. ketika itu aku sudah lama mendaftar. suatu hari aku pergi ke rumah temanku untuk mengerjakan tugas kelompok kami berdua. pas aku ke rumah dia, dia sedang bertatapan dengan sebuah layar komputer di rumahnya dan di temani oleh ayahnya. oh ku kira ada apa, ternyata dia sedang mendaftar SNMPTN. akupun melihat layar komputernya juga, dia memilih program studi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. aku, dia, dan ayahnya berdiskusi mengenai sistematika SNMPTN. alhamdulillah ayahnya cepat mengerti mengenai SNMPTN. terus ayahnya bertanya bagaimana dengan nilaimu nak ? tanya ayahnya ke temanku. “nilaiku hanya stagnan yah. tak menurun dan tak menaik. 82,83,83,83, dan 83. jawab temanku “. padahal aku tau nilai tersebut memiliki pesaing yang banyak. tapi aku memilih diam. ayahnya menggeram. kenapa sekolahmu dengan akreditasi A hanya memberikan nilai segitu ? padahal kau selalu masuk tiga besar di sekolah! jika seperti ini, susahlah sekolahmu itu mempunyai alumni di perguruan tinggi favorit seantero Indonesia. ya wajar nilainya segitu. coba disandingkan dengan sekolah lain, nilai mereka tinggi semua. apa tidak terpikir oleh kepala sekolahmu itu ? ayahnya menjawab.” seharusnya beliau memberikan nilai yang bisa bersaing untuk mendapatkan perguruan tinggi favorit. kamu mampu, masuk tiga besar lagi. kalo ginikan jadi repot. “aku hanya mendiamkan saja ucapan ayah temanku itu. hanya diam sesekali menganggukkan kepala tanda menjadi pendengar yang baik. aku rasa ayah temanku ini hendak menyuruh sekolah untuk meninggikan nilai seperti sekolah-sekolah yang lain agar murid-muridnya dapat di terima di jalur SNMPTN. okelah aku diamkan, temankupun selesai mendaftar SNMPTN dan kami mulai mengerjakan tugas kelompok berdua kami.
        Beberapa hari kemudian. di sekolah, guruku banyak bercerita tentang hiruk-pikuk UN. hampir satu jam pelajaran beliau bercerita kepada kami tentang UN. kata beliau 90% provinsi melakukan kecurangan dalam UN. dan sisanyapun ada, cuma dalam jumlah yang sedikit. aku lupa dimana beliau dapat info tersebut. aku dengarkan sajalah beliau bercerita. di sela-sela ceritanya itu, beliau bilang. sekolah yang melakukan kecurangan “susah mendapatkan bantuan dari pemerintah”. aku mulai mengerutkan dahi. jelas! contoh. maaf saja, sekolah yang yang bangunannya hampir roboh, ketika pengumuman UN nilai rata-rata siswanya 8 sampai 9. sungguh tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. dimana serba keterbatasan  sekolah tersebut tak mampu untuk membuktikan itu. prestasipun tak ada yang terdengar dari sekolah tersbut, dan tiba-tiba memiliki nilai UN tertinggi ? jelas ini tanda tanya. dalam cerita beliau, beliau bertanya kepada sekolah tersebut yang mendaptkan nilai 8 sampai 9. ternyata bukan siswanya yang pandai. melainkan gurunya. ketika UN guruah yang sibuk membagikan kunci jawaban dan mengerjakan soal UN. IRONIS ! memang Indonesia. hal ini bukan tanpa sebab kata guruku. mereka melakukan itu supaya anak muridnya lulus semua. bagiku itu proses yang salah. disamping itu, mereka tergiur akan iming-iming kabupaten dan provinsi yang menyatakan bahwa ” siapa yang dapat nilai UN tertinggi akan mendapatkan uang sebesar bla bla bla rupiah “. siapa yang menolak itu ? aku menganggung-angguk kepala seraya mengerti permasalahan yang ada.
tapi kata guruku.
           sekolah tersebut kan susah mendapat bantuan dari pemerintah berupa sarana dan prasarana. jelas! nilai UN sudah tinggi kok, masa minta bantuan lagi ! kurang apa coba !. sekolah yang di kota besar saja mendapat nilai UN 6,7, dan 8 saja yang berhak mendapatkan bantuan tersbut. jadi sekolah yang nilai UN rendahlah yang akan diberikan bantuan. lantas, sekolah di kota besar memiliki fasilitas yang lengkap. aku pun tersenyum. bahwa pemerintah masih pintar! jika ketika itu ada ayah temanku, akan aku sampaikan itulah mengapa di sekolah kami nilai asli sangat diperjuangkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar