Saat ini aku berusia tujuh belas
tahun. Pastinya masih seorang pelajar di sebuah Sekolah Menengah Atas. Dan
tahun ini aku akan menyambut pesta tiga tahunanku, Ujian Nasional. Ya! Masa
tiga tahun sekolahku ditentukan oleh tiga hari. Dan aku sudah siap! tibalah ketika
aku bermain Twitter dalam akun @anggade_es, aku melihat ada
sebuah blogging competition yang diselenggarakan oleh Universitas Siswa
Bangsa Internasional atau biasa disapa USBI. Lantas aku baca cara ikut dan
syarat ketentuannya. Kompetisi kali ini bertema “ We Are The Future Leaders “.
Aku sangat bersemangat ketika membaca tema tersebut. Kubaca kalimat demi
kalimat, sambil mengartikan arti dari setiap petunjuknya. Dan akhirnya kuputuskan
untuk mengikuti blogging Competition ini.
Kenapa
kuberi judul pemimpi + x –x + n = pemimpin ? karena setiap orang
memiliki faktor x untuk memimpin. Faktor
+ x disini bukan datang dengan sendirinya atau karunia Tuhan. Melainkan
sebuah usaha yang selalu dijaga sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Kebiasaan
yang berubah menjadi karakter. Karakter yang membawanya menjelajahi
mimpi-mimpinya untuk menjadi seorang pemimpin. Aku sebut faktor x disini adalah
pengalaman. Lantas kenapa ada – x. Kenapa harus ada - x yang membuat + x hilang
? gini guys. Kita analogikan seorang pemimpin dengan pengalamannya dan
sebuah pensil dengan serutannya. pemimpin memang akan sangat bagus jika diasah
dengan pengalamannya. Begitu juga dengan pensil. Pensil yang tumpul akan lancip
kembali setelah di serut. Namun jika pensil tersebut di raut terlalu banyak,
maka akan habis. Begitu juga pemimpin dengan pengalaman yang “ salah “ akan
membuatnya lebih tajam lagi. Tetapi jika pemimpin tersebut terlalu banyak
melakukan kesalahan yang bahkan untuk kedua kalinya, dia juga akan habis
seperti pensil tadi. Jadi, kita juga harus memiliki rem dalam memimpin. jika
kita bisa belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang sejati, why not ? toh
seorang pemimpin terlahir dari seorang pemimpi juga kan ? that’s reason i
say “pemimpi + x – x + n = pemimpin”
Berbicara
tentang pemimpin masa depan, aku berpendapat bahwa kita semua adalah bintang.
Bintang untuk diri kita sendiri dan orang lain. Hal ini tentunya bukan tanpa
sebab. Dimasa muda yang EMAS, kita bahkan mampu untuk mengubah dunia. Bukan
mengubah dunia yang semula bundar menjadi persegi. Tetapi, mengubah dunia yang
semula cemberut menjadi tersenyum kepada kita. Dunia berterimakasih kepada kita
yang telah mengubahnya menjadi baik. Walaupun umurku masih tujuh belas tahun,
aku sangat menyukai yang namanya “ leadership World “. Di sekolah aku aktif
dalam berbagai organisasi. Ya! Untuk apalagi jika bukan untuk mengasah
kepemimpinan di dalam diriku. Bagiku, masa muda adalah masa dimana pembuktian jati diri dan karakter kita ke depan. Aku percaya,
seseorang dikatakan matang jika masa mudanya aktif, kerja keras, dan selalu
mencari relasi .kematangannyalah yang membentuk kepribadiannya. Flashback, Teringat
dalam sebuah upacara bendera di sekolahku. Inspektur upacara kala itu adalah
seorang dandim ( komandan distrik militer ). Dia berbicara mengenai bekal yang
harus dimiliki seorang pemimpin dimasa depan. Dia berbicara menggunakan dua
bahasa. He said “ my mom said to me, if
you want to be a leader in the future. you must learning about two things. the
first, mastery of a foreign language ! and the second, how to operate the
computer! and i prove it, guys ! my mom that's true. dengan kedua hal tersebut,
saya bisa menginjakkan kaki di benua Asia, Amerika, Eropa dan Afrika. TANPA
mengeluarkan uang sepeserpun! “. Akupun memberinya tepuk tangan yang sangat
keras sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda “ akan aku buktikan! “. Aku
banyak belajar dari beliau tentang bekal menjadi seorang pemimpin. Beliau juga
menjadi mentorku dalam English Club. Mengenai apa yang dibicarakan
beliau pada upacara kemarin, aku pikir di zaman sekarang yang serba bersaing
dan individualistis, tak cukup rasanya akan dua hal tersebut untuk menjadi seorang
pemimpin. Kita perlu bahasa asing, komputer, dan seni. Ya, seni bagiku sangat
penting untuk dunia sekarang.
Aku
berpendapat, semua orang pasti memiliki mimpi. Tapi hanya sedikit yang MAMPU
menjaga dan mengusahakannya. “ mimpi jika selalu dijaga dan diusahakan, pasti
akan terwujud! “. Begitu juga dengan seorang pemimpin, dia harus berani
memiliki mimpi BESAR dan menjaganya. Seorang pemimpin masa depan tak boleh
berambisi untuk menghalalkan segala cara dalam memenuhi nafsunya. Terkadang ketika kita telah
menjadi seorang pemimpin, kita akan menglami sebuah comfort zone yang di
sebut dengan gila kehormatan. Aku pikir itu bukanlah seorang pemimpin sejati.
Pemimpin yang menyodorkan uang untuk cara pintas mobilitas vertikal dan
mempesona saat ditulis di berita, itu sama sekali tidak mendekati kriteriaku
sebagai pemimpin sejati. Itu hanyalah segelintir orang yang memiliki pemikiran
tua! Negeri kita tercinta ini butuh pemimpin yang memiliki pikiran dan tindakan
muda. Pemimpin yang bisa menguasai komputer, bahasa asing, dan seni. Maka dari
sana terciptalah sebuah integritas, karakter, dan komitmen yang selalu
diusahakan. Tapi jika kulihat sekarang
banyak pemimpin formal yang masih gagap teknologi, minim bahasa asing. Untuk
sampai kapan ini akan terus berlangsung ?
Bagiku
sangat unik jika membahas tentang dunia kepemimpinan. Takkan pernah ada
habis-habisnya. Ibarat sebuah ilmu yang selalu berkembang dan terus berkembang
dari masa ke masa. Terniat sebuah janji kepada Tuhan untuk mengejar
mimpi-mimpiku menjadi seorang pemimpin di masa depan. Akan selalu kujaga mimpi
ini sampai tiba waktunya. Jadi aku pikir, menjadi seorang pemimpin harus sudah
memiliki bekal. Penglaman, bahasa asing, teknologi, dan seni. Walaupun bagiku
itu bukan Cuma usaha, tapi ada tangan Tuhan yang ikut andil di dalam
ketercapaian seorang pemimpin. Jika kita ibaratkan itu merupakan setengah
karunia Tuhan dan setengah usaha yang saling mendukung. Ditambah niat dan tekad
bulat. Hilangkan ambisi, maka kata hati akan menemui. Ya! Itulah pemimpin masa
depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar