Kamis, 13 Maret 2014

Keep Stuggle Great Boy!!!



Ya, sebentar lagi aku akan menghadapi UN. Dimana masa putih abu-abuku ditentukan oleh UN, masa 3 tahunku ditentukan oleh 3 hari, dan masa depanku ditentukan oleh hasil UN. Awal kelas XII semester pertama aku sangat takut dengan yang namanya UN. Hal ini bukan tanpa sebab. Aku takut karena sangat banyak materi yang belum aku mengerti. Aku juga masih bermalas-malasan. Tak seperti disemester kedua ini. Aku lebih banyak menyibukkan diri untuk menyambut UN. Ya! UN kusambut dengan baik mulai dari sekarang. Aku mulai memaksakan diri untuk terlibat dalam pemecahan soal-soal yang bahkan hampir memakan waktu satu hariku. Aku ingin nilai UN ku bagus! Aku ingin membuktikan bahwa aku layak mendapatkannya ! doa dan usaha selalu kulakukan disetiap waktu. Aku belajar siang, malam, dan subuh. Kepemahamanku tentang materi yang akan di UN kanpun mulai meningkat. Yang semula sangat “anti”, aku malah mulai menyukainya. Karena aku yakin, sesuatu yang akan dipakasa terus-menerus sampai menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter,  itu lezat kawan!. Semula aku paksa untuk belajar. Aku paksa dan terus aku paksa. Lama-kelamaan aku mendapatkan zona nyaman dalam belajar. Aku sambil ngemil, sambil mendengarkan musik, dan bahkan sambil menonton acara kesukaanku “ Mata Najwa dan MTGW “. Jika aku sehari saja tidak belajar, aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupku. Aku sudah tentu merasa gagal jika aku tidak belajar. Aku mulai mengetahui arti sebuah “ proses “ dan arti “mencintai proses”.
Di semester akhir ini bukan berarti aku mulus saja melakukannya. Aku pernah  juga  merasa down. Aku yang sebagai manusia biasa, ada kalanya seorang manusia memiliki batas lelahnya. Dia merasa tak mampu melakukannya lagi. Ya! Aku pernah merasakannya. Kala itu aku memiliki banyak tugas, pr, kerja kelompok, dan ulangan harian yang menghadang. Aku berpikir, walaupun aku meluangkan waktu sehari 24 jam. Takkan selesai untuk mengerjakan semua ini. Belum lagi ketertinggalanku dalam mencatat materi pelajaran. Karena biasanya di sekolah aku memakai kertas  coret-coretan untuk mencatat sesuatu yang penting. Belum lagi sebagai ketua kelas yang notabenenya harus mengkoordinir segala sesuatu tentang kelas. Aku tidak ada niat menjadi ketua kelas. Karena besarnya tanggung jawab yang diberikan kepadaku. Belum lagi di kelas yang memiliki teman-teman  dengan notabene susah diatur! Di kala down itu, Aku memutuskan untuk tidak hadir ke sekolah dengan dalih sakit. Padahal aku sangat sehat, itulah alasanku. Aku tidak hadir ke sekolah untuk mengejar ketertinggalanku!  Aku merasa lelah akan hal ini! Padahal hari itu ada ulangan harian matematika. Aku sama sekali belum siap. Di rumah mulailahku kerjakan tugas, pr, dan yang lainnya. Alhamdulillah aku merasa sudah lega karena sudah banyak yang bisa aku kerjakan. Aku mulai memupuk motivasiku akan hari esok. Ya! Semangatku hari ini akan menentukan hari esokku. Keesokan harinya, aku coba sharing ke guru bp mengenai kelelahanku. Guru BP di sekolahku menjawab “ Angga, anggap aja ini sebagai latihan kuliahmu. Ibu juga dulu pernah kayak kamu itu “. Jawab ibu. Aku mulai mencerna kaliamt demi kalimat yang dikeluarkan dari mulut guru Bpku. Ada baiknya juga. Toh usaha nggak pernah boong!bagiku, Siapa menanam dia akan memetik!. Dan sampailah hari ini. Dengan optimis yang membara aku menyambut masa depan. Tidak sedikitpun aku takut akan masa depan!!! Aku belajar dan terus belajar ! soal-soal sudah menjadi sahabatku setiap malam ! buku sudah ku anggap sebagai pacar. Karena aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan buku-buku.
Tetapi...
Di tengah perjuanganku ada kabar yang tak mengenakkan. Kabar tersebut tidak sengaja keluar dari mulut temanku bahwa di sekolahku ada yang akan membeli kunci jawaban UN. Masya Allah. Di tengah perjuanganku, aku mendengar kabar yang tak ingin aku dengar. Salah satu faktor kenapa aku masuk sekolah sini adalah akreditasinya. Tetapi akan berujung seperti inikah ? aku mulai berasumsi ada sebuah sistem yang jelek di sekolah ini. Tetapi kabar ini aku diamkan. Diam dan diam. Aku bukan tipe orang yang suka memperlihatkan segala sesuatu ke orang lain.
Sekitar dua minggu kemudian. Kala itu aku pulang sekolah. Hendak menuju motor dengan kunci ditanganku yang sambil aku lempar-lempar kecil. “ puk “ ada yang menepuk pundakku. Datanglah dari belakang salah satu temanku. Dan langsung menanyaiku.
Teman              :“ Ngga, kalo ada kunci jawaban, lue beli gak ? “
aku mulai mengerutkan dahiku.
 Aku                   : “nggak bro “. Jawabku santai.
Teman              : “ kenapa ?“ tanya heran.
Aku                    : “ kalo aku beli, ngapain aku susah-susah les bro ? ngapain aku korbanin malam mingguku yang biasanya kuhabiskan buat nonton film ? “.
Temanku terdiam dan langsung menepuk-nepuk pundakku. aku langsung naik motorku dan pulang ke rumah. Baiklah mungkin kalian yang tidak jujur dalam UN merasa bangga dalam menjawab ! apa gunanya kalian les jika mengharapkan kunci jawaban ? lebih baik tidur siang di rumah ! tidak buang-buang uang dan tenaga. Inikah yang terjadi disini ?please, open your mind friends ! i know this is a difficult, but it’s real ! bagiku sesuatu yang indah layak diperjuangkan sampai mati! Kalian tidak sadar bahwa sekolah memperjuangkan mati-matian untuk mengajari kalian akan arti pendidikan berkarakter. Tapi kalian tidak menghargainya. Bagiku, kejujuran adalah bak sebuah mata uang yang akan laku dimana saja. Jika kalian begini terus, mengharap sesuatu yang tidak pasti, negara ini akan stagnan begini saja ! kalian adalah orang yang terdidik, bukan terlatih seperti pemain sirkus ! ayolah kawan, sesuatu yang indah memang sulit untuk dilakukan. Tetapi tidak mustahil untuk dilakukan! Aku pikir kalian sudah dewasa, sudah bisa menentukan baik dan buruk, terpenting dan penting, halal dan haram. Ini Indonesia kita kawan ! Keep struggle and keep smile great boy!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar