Minggu
kemarin aku bermain futsal dengan teman-teman. Futsal adalah rutinitas
mingguanku. Biasanya dalam seminggu sekali aku bermain futsal. Ya! Untuk berolahraga
dan menjaga kesehatanku. Aku bermain sekitar satu jam. Biasanya perorang harus
membayar uang sepuluh ribu rupiah. Harga yang murah untuk kesehatan yang mahal.
Ya! Sekedar hang out dengan teman-teman menghilangkan stres di
pikiranku. Tak jarang dalam bermain futsal canda tawa mengiringi kami semua. Kadang
ada kejadian lucu yang tak terduga, sampai cidera yang membuat kawan-kawan
takut akan itu semua. Semuanya di bungkus dalam sebuah persahabatan yang murni.
Tanpa beban, paksaan, dan ancaman. Kala itu, hari sudah mulai sore. Sekitar jam
setengah enam ketika aku melihat diponselku. Aku memutuskan untuk pulang
bersama teman yang aku bonceng di otorku. Di jalan, temanku mmengajak singgah
di kios untuk membeli minuman dingin. Aku iyakan saja ajakan temanku ini. Sesampainya
disana kamipun turun dari motor. Dia beli minuman dingin dan aku duduk di kursi
sebelah kios tersebut. Aku Cuma duduk dan tidak membeli apa-apa. Toh dari rumah
sudah aku sediakan minuman air putih di dalam tas olahragaku. Tak perlu repot
untuk membeli minuman lagi pikirku. Hehehe Seperti nongkrong layaknya anak muda
di tempatku, akupun menikmati sore bersama teman di sebelahku. Tak jarang
keringat aku sapu dari wajah ini.
Dua
puluh meter dari tempat dudukku, aku melihat seorang tukang sampah. Hal ini
sangat asing bagiku. Karena biasanya tukang sampah bekerja pada pagi hari, ini
kenapa sore hari ? muncul tanda tanya dalam pikirku. Semakin ia berjalan
membawa gerobaknya semakin dia dekat dengan jarakku. Aku mulai berpikir
kembali, ini tukang sampah kok lain dari yang lain. Dia memakai pakaian yang
bersih dan rapi, tak lusuh seperti kebanyakan tukang sampah yang lainnya. Dia juga
lihai dalam mengambil sampah walaupun kulitnya sudah mulai termakan usia. Jari jemarinya
menyapu jalanan yang sesekali mengambil sampah yang tak bisa di kikis oleh sapu
lidinya. Akhirnya tibalah dia diseberang jalan kami. Dia berhenti tepat di seberang
jalan. Dia menuju ke arah kami. Toh mungkin saja dia membeli sebungkus rokok
untuk dinikmatinya. Ternyata tidak! Dia membeli minuman sama dengan temanku dan
duduk di dekat kami. Akupun sedikit menggeser dudukku. Aku bicara-bicara kecil
dengan temanku. Sesekali melihat ponselku jika saja ada pemberitahuan yang
masuk. Tak beberapa lama, si tukang sampah ini mengawali pembicaraan. Dan hebatnya
memakai bahasa Indonesia, bukan Amuntai!
Pria : “Assalamualaikum dik. Habis
berolahraga ya ? “ tanya pria itu.
Aku dan teman : “waalaikumsalam. Iya pak, habis main futsal .
“ sambil menyapu keringat di dahi
Pria :
“ Oh iya bagus dik. Bapak juga dulu seperti adik ini. Masa muda bapak selalu
diisi dengan hal yang positif. “
Aku mulai mengangguk-anggukkan kepala. Begitu juga
dengan teman disebelahku.
Pria :
“adik berdua ini sekolah dimana ? “ tanyanya dengan santai dan bijak. Diselingi
dengan nada suara yang nyaman di dengar.
Aku :
“kami sekolah di SMAN 1 Amuntai pak. Dekat kok dari sini. “
Temanku mulai asyik dengan smartphonenya.
Pria :
Oooh SMAN 1 toh. Sekolah yang bagus itu dik.
Aku senyum.
Pria :
“bapak bisa melihat masa depan kalian ini dik. “
Pria ini mulai membuatku
tertarik. Begitu juga dengan teman disebelahku yang langsung menatap muka pria
ini.
Temanku :
“ bagaimana bisa pak ? “
Pria :
“ begini. Adik ini jika bapak liat susah untuk mendapatkan masa depan yang
cerah jika terus seperti ini. “
Aku langsung mengerutkan dahiku.
Temanku :
“kenapa pak ? “
Pria :
“ iya. Adik sebelum tidur selalu baca doa tidak ? “
Temanku :
“selalu pak. “
Aku mulai memusatkan perhatian kepada pria ini. Dia belum
membuka minumannya sama sekali
Pria :
“ya. Bagaimana setelah bangun ? masih baca doa ?“ tanyanya tajam.
Temanku dan aku menggeleng-gelengkan kepala.
Pria :
“ Nah itulah manusia. Mereka hanya ingin enaknys saja. Ketika meminta, memohon
tak pernah lupa. Tetapi setelah enak, mereka semua lupa. Tidur enakkan dik ? “
Aku dan temanku
mengangguk-anggukkan kepala. Aku mulai mencerna apa yang dikatakan pria ini. Ada
betulnya juga. Secara tak sadar aku hanya meminta yang enaknya saja kepada
Tuhan. Dan setelah enak, aku lupa. Masya Allah~
Pria :
“nah jadi mulai sekarang berdoalah dik sebelum tidur dan sesudah tidur.
insyaAllah kalian akan mendapat jalan yang mudah untuk masa depan yang cerah. “
Aku dan temanku
memberikan senyum kecil kepada pria ini. Dan temanku setelah habis meminum
minumannya langsung melempar kaleng minumannya ke tong sampah. Hupp! Dan tak
tepat sasaran. Langsung diambilnya kaleng itu dan di masukkannya ke dalam tong
sampah. Ternyata pria ini berucap kembali sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Pria : masya Allah manusia
sekarang ini. Sangat tidak mencintai alam. Lihat dik di sekitar kalian. Banyak sekali
sampah dimana-mana. Beginikah manusia ?
Aku dan temanku
hanya tediam mendengar kaliamat demi kalimat yang terdengar dari pria ini. Setelah
terdiam agak lumayan lama, diapun pamit pulang. Begitu pula dengan kami. Tak lupa salam terucap dari masing-masing
mulut kami.
Kamipun melanjutkan
perjalanan kami menuju rumah masing-masing. Kami terdiam dalam pikiran
masing-masing. Mencerna kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan arti demi
arti apa yang terucap dari mulut pria ini. Sebuah filosofi hidup yang tak aku
sadari muncul begitu saja dari sesosok tukang sampah. Akupun mulai ragu bahwa
itu manusia. Ya! Feelingku terhadapnya bukan tanpa sebab apa-apa. Kulihat
pakainnya yang rapi. Bekerja di sore hari ? bukan dipagi hari membuatku menjadi
bingung. Dan seorang tukang sampah memilih membeli minum di kios padahal ia
bisa membawa dari rumah. Atau dia sengaja membeli minuman untuk bisa berbicara
dengan kami ? aku terdiam dalam pikiranku. Tuhankah yang mengirim pria itu untuk
menyadarkan masa muda kami ? Akupun tak tahu, karena itu rahasia Tuhan untuk
umatNya. Dan untuk pria itu, aku lebih suka dengan menyebutnya sebagai orang
yang terlupakkan. Ya aku tak tahu siapa nama beliau itu ! yang kutahu hanya
pekerjaannya. Mungkin dimata orang lain, beliau adalah orang yang terlupakkan
jika dilihat dari pekerjaannya. Tanpa disadari, dialah yang membuat lingkungan
ini menjadi bersih. Dan manusia tak peduli akan kesembarangannya membuang
sampah. Ya itulah manusia! Sekali disapu,
akan bermunculan kembali sampah-sampah yang telah disapu !tapi aku bukan
penilai yang baik. Hanya Tuhan yang layak menilai beliau. Pantaskah pekerjaan
itu untuk beliau. Dan aku belajar satu hal lagi dari beliau. Kekayaan materi
bukanlah yang kekal, tetapi kekayaanhati itulah yang akan kekal. Aku pikir jika
beliau ingin menjadi lebih dari itu, bisa saja bahkan sangat bisa. Tapi beliau
ingin memilih pekerjaan itu. Aku tak tahu beliau dihadapan Tuhan. Hina atau
muliakah. Aku sungguh tak tahu. Hanya beliau yang mampu menjawab. Seberapa ikhlas
untuk dunia ini~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar