Sabtu, 15 Maret 2014

Malaikatkah itu ?




                Minggu kemarin aku bermain futsal dengan teman-teman. Futsal adalah rutinitas mingguanku. Biasanya dalam seminggu sekali aku bermain futsal. Ya! Untuk berolahraga dan menjaga kesehatanku. Aku bermain sekitar satu jam. Biasanya perorang harus membayar uang sepuluh ribu rupiah. Harga yang murah untuk kesehatan yang mahal. Ya! Sekedar hang out dengan teman-teman menghilangkan stres di pikiranku. Tak jarang dalam bermain futsal canda tawa mengiringi kami semua. Kadang ada kejadian lucu yang tak terduga, sampai cidera yang membuat kawan-kawan takut akan itu semua. Semuanya di bungkus dalam sebuah persahabatan yang murni. Tanpa beban, paksaan, dan ancaman. Kala itu, hari sudah mulai sore. Sekitar jam setengah enam ketika aku melihat diponselku. Aku memutuskan untuk pulang bersama teman yang aku bonceng di otorku. Di jalan, temanku mmengajak singgah di kios untuk membeli minuman dingin. Aku iyakan saja ajakan temanku ini. Sesampainya disana kamipun turun dari motor. Dia beli minuman dingin dan aku duduk di kursi sebelah kios tersebut. Aku Cuma duduk dan tidak membeli apa-apa. Toh dari rumah sudah aku sediakan minuman air putih di dalam tas olahragaku. Tak perlu repot untuk membeli minuman lagi pikirku. Hehehe Seperti nongkrong layaknya anak muda di tempatku, akupun menikmati sore bersama teman di sebelahku. Tak jarang keringat aku sapu dari wajah ini.
                Dua puluh meter dari tempat dudukku, aku melihat seorang tukang sampah. Hal ini sangat asing bagiku. Karena biasanya tukang sampah bekerja pada pagi hari, ini kenapa sore hari ? muncul tanda tanya dalam pikirku. Semakin ia berjalan membawa gerobaknya semakin dia dekat dengan jarakku. Aku mulai berpikir kembali, ini tukang sampah kok lain dari yang lain. Dia memakai pakaian yang bersih dan rapi, tak lusuh seperti kebanyakan tukang sampah yang lainnya. Dia juga lihai dalam mengambil sampah walaupun kulitnya sudah mulai termakan usia. Jari jemarinya menyapu jalanan yang sesekali mengambil sampah yang tak bisa di kikis oleh sapu lidinya. Akhirnya tibalah dia diseberang jalan kami. Dia berhenti tepat di seberang jalan. Dia menuju ke arah kami. Toh mungkin saja dia membeli sebungkus rokok untuk dinikmatinya. Ternyata tidak! Dia membeli minuman sama dengan temanku dan duduk di dekat kami. Akupun sedikit menggeser dudukku. Aku bicara-bicara kecil dengan temanku. Sesekali melihat ponselku jika saja ada pemberitahuan yang masuk. Tak beberapa lama, si tukang sampah ini mengawali pembicaraan. Dan hebatnya memakai bahasa Indonesia, bukan Amuntai!
Pria                        : “Assalamualaikum dik. Habis berolahraga ya ? “ tanya pria itu.
Aku dan teman : “waalaikumsalam. Iya pak, habis main futsal . “ sambil menyapu keringat di dahi
Pria                        : “ Oh iya bagus dik. Bapak juga dulu seperti adik ini. Masa muda bapak selalu diisi dengan hal yang positif. “
Aku mulai mengangguk-anggukkan kepala. Begitu juga dengan teman disebelahku.
Pria                        : “adik berdua ini sekolah dimana ? “ tanyanya dengan santai dan bijak. Diselingi dengan nada suara yang nyaman di dengar.
Aku                        : “kami sekolah di SMAN 1 Amuntai pak. Dekat kok dari sini. “
Temanku mulai asyik dengan smartphonenya.
Pria                        : Oooh SMAN 1 toh. Sekolah yang bagus itu dik.
Aku senyum.
Pria                        : “bapak bisa melihat masa depan kalian ini dik. “
Pria ini mulai membuatku tertarik. Begitu juga dengan teman disebelahku yang langsung menatap muka pria ini.
Temanku             : “ bagaimana bisa pak ? “
Pria                        : “ begini. Adik ini jika bapak liat susah untuk mendapatkan masa depan yang cerah jika terus seperti ini. “
Aku langsung mengerutkan dahiku.
Temanku             : “kenapa pak ? “
Pria                        : “ iya. Adik sebelum tidur selalu baca doa tidak ? “
Temanku             : “selalu pak. “
Aku mulai memusatkan perhatian kepada pria ini. Dia belum membuka minumannya sama sekali
Pria                        : “ya. Bagaimana setelah bangun ? masih baca doa ?“ tanyanya tajam.
Temanku dan aku menggeleng-gelengkan kepala.
Pria                        : “ Nah itulah manusia. Mereka hanya ingin enaknys saja. Ketika meminta, memohon tak pernah lupa. Tetapi setelah enak, mereka semua lupa. Tidur enakkan dik ? “
Aku dan temanku mengangguk-anggukkan kepala. Aku mulai mencerna apa yang dikatakan pria ini. Ada betulnya juga. Secara tak sadar aku hanya meminta yang enaknya saja kepada Tuhan. Dan setelah enak, aku lupa. Masya Allah~
Pria                        : “nah jadi mulai sekarang berdoalah dik sebelum tidur dan sesudah tidur. insyaAllah kalian akan mendapat jalan yang mudah untuk masa depan yang cerah. “
Aku dan temanku memberikan senyum kecil kepada pria ini. Dan temanku setelah habis meminum minumannya langsung melempar kaleng minumannya ke tong sampah. Hupp! Dan tak tepat sasaran. Langsung diambilnya kaleng itu dan di masukkannya ke dalam tong sampah. Ternyata pria ini berucap kembali sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Pria                        : masya Allah manusia sekarang ini. Sangat tidak mencintai alam. Lihat dik di sekitar kalian. Banyak sekali sampah dimana-mana. Beginikah manusia ?
                                Aku dan temanku hanya tediam mendengar kaliamat demi kalimat yang terdengar dari pria ini. Setelah terdiam agak lumayan lama, diapun pamit pulang. Begitu pula dengan kami.  Tak lupa salam terucap dari masing-masing mulut kami.
                                Kamipun melanjutkan perjalanan kami menuju rumah masing-masing. Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Mencerna kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan arti demi arti apa yang terucap dari mulut pria ini. Sebuah filosofi hidup yang tak aku sadari muncul begitu saja dari sesosok tukang sampah. Akupun mulai ragu bahwa itu manusia. Ya! Feelingku terhadapnya bukan tanpa sebab apa-apa. Kulihat pakainnya yang rapi. Bekerja di sore hari ? bukan dipagi hari membuatku menjadi bingung. Dan seorang tukang sampah memilih membeli minum di kios padahal ia bisa membawa dari rumah. Atau dia sengaja membeli minuman untuk bisa berbicara dengan kami ? aku terdiam dalam pikiranku. Tuhankah yang mengirim pria itu untuk menyadarkan masa muda kami ? Akupun tak tahu, karena itu rahasia Tuhan untuk umatNya. Dan untuk pria itu, aku lebih suka dengan menyebutnya sebagai orang yang terlupakkan. Ya aku tak tahu siapa nama beliau itu ! yang kutahu hanya pekerjaannya. Mungkin dimata orang lain, beliau adalah orang yang terlupakkan jika dilihat dari pekerjaannya. Tanpa disadari, dialah yang membuat lingkungan ini menjadi bersih. Dan manusia tak peduli akan kesembarangannya membuang sampah.  Ya itulah manusia! Sekali disapu, akan bermunculan kembali sampah-sampah yang telah disapu !tapi aku bukan penilai yang baik. Hanya Tuhan yang layak menilai beliau. Pantaskah pekerjaan itu untuk beliau. Dan aku belajar satu hal lagi dari beliau. Kekayaan materi bukanlah yang kekal, tetapi kekayaanhati itulah yang akan kekal. Aku pikir jika beliau ingin menjadi lebih dari itu, bisa saja bahkan sangat bisa. Tapi beliau ingin memilih pekerjaan itu. Aku tak tahu beliau dihadapan Tuhan. Hina atau muliakah. Aku sungguh tak tahu. Hanya beliau yang mampu menjawab. Seberapa ikhlas untuk dunia ini~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar