Walaupun
Ujian Nasional sudah usai, bukan pertanda untuk bersantai . Ada hal yang harus
aku persiapkan matang-matang perihal masuk perguruan tinggi. Ya, aku harus
lulus di perguruan tinggi negeri tujuanku selama ini ! untuknya, aku sedang mempersiapkan
kursus SBMPTN . kenapa harus kursus dan memakan banyak biaya ? mugkin aku hanya
bisa menjawab. Kurikulum sekolah dan SBMPTN berbeda, untuk itu aku kursus
tambahan. Aku memilih kursus di Banjarbaru. Dan kenapa pula aku memilih kesana
? tak lain ingin mencari “ sesuatu “ yang di kotaku kurang memadai. Ya ! sumber
daya manusianya. Jelas dan terang-terangan aku katakan, karena memang begitu
adanya. Untung aku tidak sendiri, ada teman-teman dari sekolahku yang juga berniat
kursus disana. Agus dan Surya. Perihal tempat
tinggal, aku numpang di rumah si Agus. Untunglah ada Agus jadi aku tidak perlu
repot-repot mengurus kos. Satu temanku lagi adalah Surya. Kami bertiga tinggal
di rumah Agus. Agus dan Surya anak IPA, dan aku anak IPS. Di tempat kursus, sudah
tentu aku mengambil jurusan IPS, Surya
mengambil IPA, dan Agus mengambil IPC. Semua beda jurusan, tapi visi kami
selalu sama. Untuk masa depan yang cemerlang !
Aku
menganggap ini sebagai sebuah pengalaman sebelum masa kuliah tiba. Kami di
gembleng untuk tahan banting. Tanpa orang tua sudah tentu yang mewajibkan kami
untuk siap dan sigap dalam kemandirian. Segala
sesuatu harus di urus sendiri-sendiri. Memang benar jika tanpa orang tua, kita
akan kritis terhadap segala hal. Contohnya saja perihal makan. Bagaimana makan
enak dan kenyang dengan mengeluarkan biaya serendah-rendahnya. Ya! Mulai dari
membuat ikan sarden dengan ditumpahi telor dadar supaya banyak, bikin telur
dadar ditambah mie instan dan kol didalamnya, sampai membeli soto ayam minta
banyak kuah supaya terlihat banyak. Prioritas dan fokus utama kami memang kuantitas.
Tempat jajanan murahpun menjadi ladang fokus kami. Lain lagi halnya, kopi dan
mie instan telah menjadi sahabat kami di pagi hari atau di malam hari. Entah telah
menjadi sebuah tradisi. Hal lain yang krusial juga adalah mengurus keuangan. Hari
pertama, kedua, dan ketiga aku sempat tak bisa menahan laju arus kasku yang keluar deras. Dari awal aku kesini, aku sudah
mencamkan dalam diri ini untuk berhemat !. banyak perihal yang harus dikritisi
mulai dari sekarang. Bahkan mungkin saja berita kenaikan harga cabai membuat kami
pusing saking kritisnya -_- karena kami juga rutin membeli sayur seperti kol,
wortel, kacang panjang, dan bayam. Untuk dimasak kalau-kalau lagi krisis
moneter di dalam kantong celana kami. Tak jarang pula kami memanjakan diri
dengan makan diluar. Seperti malam minggu dan pagi minggu. Malam minggu bisa
saja kami sekedar keluar mencari tongkrongan makan yang enak seraya memanjakan
perut. Dan pagi minggu, kami berolahraga di sekitar lapangan Murjani. Itu adalah
syurganya kuliner. Mau nasi, bubur, sate, masakan jepang, cina, semuanya
lengkap. Tapi kami lebih suka kuantitas yang banyak, ya ! nasi kuning cempaka. Seperti
nasi dua porsi, pas untuk kami. Atau bisa juga kami sekedar melihat-lihat
makanan yang belum pernah kami coba dan belum pernah ada di kotaku. Seperti roti
yang dibawahnya ada bubur. Lumayan enak ! pokoknya hidup di kota orang,
membuatmu kritis. Jika sudah kuliah nanti, Jangan hanya berdiam di rumah saja !
dunia menantimu ! banyak tempat dan makanan yang wajib kau kunjungi dan cicipi
! dan aku sudah memikirkan hal itu.
Perihal
pembagian tugas di rumah, aku rutin membersihkan dan membereskan barang-barang
yang berantakan. Seperti cucian piring, lantai yang kotor, atau menaruh sesuatu yang tidak pada tempatnya. Walaupun
tak disuruh, ini adalah bentuk rasa terimakasihku kepada keluarga Agus, jika
tidak ada mereka bisa saja aku membayar uang satu juta dua ratus untuk sebuah
kamar kost. Tapi disini gratis. #senyum. Orang tua Agus juga seminggu sekali
datang kemari, untuk patroli mungkin :D semoga tulisan ini akan berlanjut di beberapa
tahun lagi dengan judul, merajut dan belajar di negeri orang. Amiiiin ~
Bersambung---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar