Minggu, 11 Mei 2014

sambungan 2 " Merajut Asa dan Cita di Kota Orang "



Dua minggu sudah aku berada di kota orang. Hari demi hari serasa sudah menjadi darah daging saja, dan akhirnya homesick melandaku. Kangen kota, kangen rawa, kangen  keadaan rumah, kangen teman, kangen kucing, kangen suasana jalanan di kota asal. Hanya dua minggu saja aku sudah kangen, apalagi nanti. Tapi tak apalah, toh sebentar lagi aku akan pulang untuk menghadiri acara perpisahan di sekolahku.
Hari demi hari kulalui, tanpa orang tua yang mewajibkanku untuk mandiri. Makan sarden telor sambil seraya bernyanyi “ makan makan sendiri, cuci cuci sendiri “ sambil nangis hahaha. Nggaklah. Santai aja kelesss... banyak sekali yang kudapat di kota orang ini. Khususnya sumber daya manusia yang tinggi beserta etos kerjanya. Rata-rata tentor di tempat kursusku sudah S-2 ( strata-2 ) dan lulusan Jawa yang kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Mereka sering membahas hal baru yang merasuk dalam perkembangan zaman. Itu membuatku suka akan topik tersebut. Aku apresiasi memang tentor ditempat kursusku yang memang awesome, cool, credible, and i really love it.  Mereka telah membuka perspektif baru kepadaku. Pandangan yang luas akan dunia ini. Banyak yang patut dipelajari. Yang paling terngiang ditelingaku ketika sang tentor berucap “ kita sekarang adalah kumpulan kita dimasa lalu . Kita nggak bisa ngerjain soal, itu salah kita dimasa lalu kenapa nggak belajar. Yakan ? tapi jangan berkecil hati, kita dimasa depan adalah kumpulan kita yang sekarang. Esok kita ditentukan oleh kita yang hari ini. Maka pompalah motivasi kalian “. That’s my favorite quote!  Hal lain lagi ketika pengalaman-pengalaman mereka semasa kuliah, mereka bagikan kepada kami secara cuma-cuma. Tak jarang mengundang galak tawa dari kami karena penyampaiannya terkesan seperti seseorang yang sedang berstand up commedy. Dan dari semua kisah mereka aku harus memilah yang mana yang harus kumasukkan kedalam list hal yang ingin aku coba ketika kuliah nanti. Ya ! salah satunya bekerja part-time. Sang tentor bercerita semasa kuliah beliau pernah menjadi satpam, penjaga toko, pelayan fastfood, tukang nasi goreng. Hal itu beliau lakukan untuk mempercantik CV disamping untuk menambah uang saku. Dan pada akhirnya, itu membuat CV ku cantik dan gajiku menjadi naik. Ucap sang tentor. Darisana aku mulai mengerutkan dahi ini, seraya mencerna apa yang diucapkannya itu. Kaliamat yang menurutku memiliki a big power. Dan sejak itu pula aku, terniat dalam diri untuk hidup mandiri, kalau bisa harus hidup tanpa duit orang tua. Ya! Aku harus bekerja walaupun bisa saja aku meminta uang lebih kepada orang tua. Tapi diriku bukanlah model orang yang seperti itu. Aku tak mau jadi orang yang slalu meminta. Bukan aku ! walau bisa saja aku meminta uang karena sedang berulang tahun. Aku menahan untuk membiasakan diri hemat. Karena sepuluh dua puluh tahun lagi yang menjalani hidup adalah aku. Memang enak punya banyak uang. Tapi aku ingat prinsip dalam rumus konsumsi di pelajaran ekonomi. Semakin banyak pendapatan seseorang, semakin banyak pula konsumsi yang dipakainya. Dan aku tak mau itu. itu yang muncul dalam pikiranku. Sekarang aku memikirkan pekerjaan apa yang pas buatku nanti ketika kuliah. Asal halal dan aku bisa memanage untuk tidak mengganggu kuliahku. “ aku menyelam dan sambil meminum airnya “. Pepatah yang pas untukku kala ini. Aku ingin menghilangkan rasa gengsi dalam hidup ini. Teringat dalam sebuah film hollywood. Di luar negeri sana, bisa saja sang rektor menjadi orang gila atau bekerja menjadi pelayan supermarket. Untuk apa ? aku lebih suka menyebutnya sebagai “ pemaknaan hidup “. Seperti kata mbak Merry Riana dalam buku Sejuta Dolarnya “ tempaan hidup yang sulit, akan menjadikan pribadi yang tangguh “ dan aku yakini sekali quote tersebut. Aku memang orang yang idealis. Aku membenarkan apa yang ada di benakku. Buku memang menjadi bacaan favoritku.
Terlintas dalam sebuah buku traveling yang berucap, “ apakah kau hanya ingin hidup seperti orang lain yang biasa saja, Lahir-sekolah-menikah-punya anak-mati ? “ aku langsung tertegun dengan kalimat itu. Aku setuju dengan isi buku tersebut. Bahwa siklus Itu terlalu sederhana, banyak hal yang lebih mulia untuk diemban dalam hidup ini, banyak tempat yang mesti kita kunjungi, banyak pengalaman yang sedang menunggu kita untuk dijemput, dan aku menunggu itu semua sambil mempersiapkan diri. Ya! Niatku untuk kuliah ada 3. Kenapa aku tulis disini ? karena “ kita adalah apa yang kita tulis, kita adalah apa yang kita baca” dan itu semua harus kucapai setinggi-tingginya. Pertama, prestasi akademik. Kedua, organisasi masyarakat. Dan ketiga, bisnis. Ketiga hal tersebut lebih kukonkretkan dalam sebuah buku catatan harian yang slalu kubawa kemana-mana.  " beberapa rahasia layak dibawa sampai mati “. Artinya, ada sesuatu yang memang layak kita simpan untuk diri ini, itulah yang mendasariku. Teringat lagi dalam sebuah buku biografi yang berucap, “ Kemampuan mengontrol diri untuk meminimalkan publikasi diri sendiri. Manusia menjadi tinggi karena publikasi, saat sudah begitu rasa sakit saat jatuh menjadi tak terperi”. Chairul Tanjung Si Anak Singkong halaman 103. Dan aku sangat tahu arti semua itu. Sungguh paham ! teringat lagi dalam sebuah buku tentang pekerjaan au pair  ( yang tertarik bisa search di goggle ). Terang-terangan aku menyebutnya, aku tak ingin menjadi “ setiap orang memiliki hasrat menyembunyikan informasi untuk mengurangi pesaing “. Aku bukan termasuk dalam kelompok itu, karena aku sendiri dapat informasi dari seseorang juga. Seperti dalam ilmu sosiologi, setiap orang membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.   Dan aku tertarik sambil menyusun rencana kedepan. Aku berasumsi, segala sesuatu yang dicatat akan memudahkan kita untuk mencapainya. Karena hal tersebut slalu membayangi kita dimanapun kita berada. Setiap hari aku selalu bercermin seraya berucap dalam hati “ hei kau yang didepan cermin, bisa saja hari ini adalah hari terakhirmu di dunia ini, maka berbaik hatilah terhadap hari, dan lakukan yang terbaik “. Kulakukan setiap pagi ketika hendak belajar menuntut ilmu, dan itu akan menjadi nyata seuatu hari nanti. PASTI!

bersambung...................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar