Dua minggu
sudah aku berada di kota orang. Hari demi hari serasa sudah menjadi darah
daging saja, dan akhirnya homesick melandaku. Kangen kota, kangen rawa,
kangen keadaan rumah, kangen teman,
kangen kucing, kangen suasana jalanan di kota asal. Hanya dua minggu saja aku
sudah kangen, apalagi nanti. Tapi tak apalah, toh sebentar lagi aku akan pulang
untuk menghadiri acara perpisahan di sekolahku.
Hari demi hari
kulalui, tanpa orang tua yang mewajibkanku untuk mandiri. Makan sarden telor
sambil seraya bernyanyi “ makan makan sendiri, cuci cuci sendiri “ sambil
nangis hahaha. Nggaklah. Santai aja kelesss... banyak sekali yang kudapat di
kota orang ini. Khususnya sumber daya manusia yang tinggi beserta etos kerjanya.
Rata-rata tentor di tempat kursusku sudah S-2 ( strata-2 ) dan lulusan Jawa
yang kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Mereka sering membahas hal baru yang
merasuk dalam perkembangan zaman. Itu membuatku suka akan topik tersebut. Aku apresiasi
memang tentor ditempat kursusku yang memang awesome, cool, credible, and i
really love it. Mereka telah membuka
perspektif baru kepadaku. Pandangan yang luas akan dunia ini. Banyak yang patut
dipelajari. Yang paling terngiang ditelingaku ketika sang tentor berucap “ kita
sekarang adalah kumpulan kita dimasa lalu . Kita nggak bisa ngerjain soal, itu
salah kita dimasa lalu kenapa nggak belajar. Yakan ? tapi jangan berkecil hati,
kita dimasa depan adalah kumpulan kita yang sekarang. Esok kita ditentukan oleh
kita yang hari ini. Maka pompalah motivasi kalian “. That’s my favorite
quote! Hal lain lagi ketika
pengalaman-pengalaman mereka semasa kuliah, mereka bagikan kepada kami secara cuma-cuma.
Tak jarang mengundang galak tawa dari kami karena penyampaiannya terkesan
seperti seseorang yang sedang berstand up commedy. Dan dari semua kisah
mereka aku harus memilah yang mana yang harus kumasukkan kedalam list
hal yang ingin aku coba ketika kuliah nanti. Ya ! salah satunya bekerja part-time.
Sang tentor bercerita semasa kuliah beliau pernah menjadi satpam, penjaga
toko, pelayan fastfood, tukang nasi goreng. Hal itu beliau lakukan untuk
mempercantik CV disamping untuk menambah uang saku. Dan pada akhirnya, itu
membuat CV ku cantik dan gajiku menjadi naik. Ucap sang tentor. Darisana aku
mulai mengerutkan dahi ini, seraya mencerna apa yang diucapkannya itu. Kaliamat
yang menurutku memiliki a big power. Dan sejak itu pula aku, terniat
dalam diri untuk hidup mandiri, kalau bisa harus hidup tanpa duit orang tua. Ya!
Aku harus bekerja walaupun bisa saja aku meminta uang lebih kepada orang tua. Tapi
diriku bukanlah model orang yang seperti itu. Aku tak mau jadi orang yang slalu
meminta. Bukan aku ! walau bisa saja aku meminta uang karena sedang berulang
tahun. Aku menahan untuk membiasakan diri hemat. Karena sepuluh dua puluh tahun
lagi yang menjalani hidup adalah aku. Memang enak punya banyak uang. Tapi aku
ingat prinsip dalam rumus konsumsi di pelajaran ekonomi. Semakin banyak
pendapatan seseorang, semakin banyak pula konsumsi yang dipakainya. Dan aku tak
mau itu. itu yang muncul dalam pikiranku. Sekarang aku memikirkan pekerjaan apa
yang pas buatku nanti ketika kuliah. Asal halal dan aku bisa memanage untuk
tidak mengganggu kuliahku. “ aku menyelam dan sambil meminum airnya “. Pepatah yang
pas untukku kala ini. Aku ingin menghilangkan rasa gengsi dalam hidup ini. Teringat
dalam sebuah film hollywood. Di luar negeri sana, bisa saja sang rektor menjadi
orang gila atau bekerja menjadi pelayan supermarket. Untuk apa ? aku lebih suka
menyebutnya sebagai “ pemaknaan hidup “. Seperti kata mbak Merry Riana dalam
buku Sejuta Dolarnya “ tempaan hidup yang sulit, akan menjadikan pribadi yang
tangguh “ dan aku yakini sekali quote tersebut. Aku memang orang yang
idealis. Aku membenarkan apa yang ada di benakku. Buku memang menjadi bacaan
favoritku.
Terlintas dalam
sebuah buku traveling yang berucap, “ apakah kau hanya ingin hidup seperti
orang lain yang biasa saja, Lahir-sekolah-menikah-punya anak-mati ? “ aku
langsung tertegun dengan kalimat itu. Aku setuju dengan isi buku tersebut. Bahwa
siklus Itu terlalu sederhana, banyak hal yang lebih mulia untuk diemban dalam
hidup ini, banyak tempat yang mesti kita kunjungi, banyak pengalaman yang sedang
menunggu kita untuk dijemput, dan aku menunggu itu semua sambil mempersiapkan
diri. Ya! Niatku untuk kuliah ada 3. Kenapa aku tulis disini ? karena “ kita
adalah apa yang kita tulis, kita adalah apa yang kita baca” dan itu semua harus
kucapai setinggi-tingginya. Pertama, prestasi akademik. Kedua, organisasi
masyarakat. Dan ketiga, bisnis. Ketiga hal tersebut lebih kukonkretkan dalam sebuah
buku catatan harian yang slalu kubawa kemana-mana. " beberapa rahasia layak dibawa sampai
mati “. Artinya, ada sesuatu yang memang layak kita simpan untuk diri ini,
itulah yang mendasariku. Teringat lagi dalam sebuah buku biografi yang berucap,
“ Kemampuan mengontrol diri untuk meminimalkan
publikasi diri sendiri. Manusia menjadi tinggi karena publikasi, saat sudah
begitu rasa sakit saat jatuh menjadi tak terperi”. Chairul Tanjung Si Anak
Singkong halaman 103. Dan aku sangat tahu arti semua itu. Sungguh paham
! teringat lagi dalam sebuah buku tentang pekerjaan au pair ( yang tertarik bisa search di goggle
). Terang-terangan aku menyebutnya, aku tak ingin menjadi “ setiap orang memiliki
hasrat menyembunyikan informasi untuk mengurangi pesaing “. Aku bukan termasuk
dalam kelompok itu, karena aku sendiri dapat informasi dari seseorang juga. Seperti
dalam ilmu sosiologi, setiap orang membutuhkan orang lain untuk memenuhi
kebutuhannya. Dan aku tertarik sambil menyusun rencana
kedepan. Aku berasumsi, segala sesuatu yang dicatat akan memudahkan kita untuk
mencapainya. Karena hal tersebut slalu membayangi kita dimanapun kita berada. Setiap
hari aku selalu bercermin seraya berucap dalam hati “ hei kau yang didepan
cermin, bisa saja hari ini adalah hari terakhirmu di dunia ini, maka berbaik
hatilah terhadap hari, dan lakukan yang terbaik “. Kulakukan setiap pagi ketika
hendak belajar menuntut ilmu, dan itu akan menjadi nyata seuatu hari nanti.
PASTI!
bersambung...................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar